Bismillahirrahmanirrahim,
Akhir-akhir ini, saya sering bertanya-tanya sendiri.
Kenapa seminar pranikah, jodoh-jodohan (jangan diartikan sebagai jodoh bohongan ya, maksudnya seminar tentang jodoh) dan cinta, jadi banyak gini sih bertebaran dimana-mana?
Kenapa saya bilang gitu?
Ya..liat aja..
- 13 Juli 2013, seminar pranikah di Mesjid UI | (udah lewat haha)
- 14 Juli 2013, kajian muslimah "mencari cinta ALLAH" | (hari ini ga bisa dateng. ada syuro)
- 17 Juli 2013, pengajian Hijabers UI dengan tema "Jodoh, dipilih atau memilih?" | (count me in! :D)
- 31 Agustus 2013, seminar "Akulah jodoh sejatimu" di SMESCO | (ga tau lokasi. dan mahal Rp 300,000 :p)
Belum lagi event-event seminar/kajian di bulan sebelum-sebelumnya yang udah lewat..
Hmm..
Apa ini menandakan bahwa semakin banyak orang yang sadar bahwa jodoh itu harus dipertimbangkan dengan baik untuk dipilih/ketika memilih? bahwa menikah itu harus memiliki bekal dan ga sekedar cinta semata? dan cinta juga harus sesuai syariat Islam?
* * * * *
Well, terlepas dari bahasan pada intro di atas, saya mau cerita sedikit tentang seminar pranikah di Mesjid UI yang saya hadiri kemarin, 13 Juli 2013.
.....
Sebelunya, saya mau jelasin tiga poin dulu:
Pertama, saya dateng telat. Seminar dimulai jam 09:00 tapi saya dateng jam 10:32 karena satu dan lain hal (bukan. bukan karena males mandi dan telat berangkat dari rumah).
Kedua, slide seminarnya ga begitu keliatan karena saya dapet duduknya di belakang (rame loh akhwatnya!)
Ketiga, catetan yang berhasil saya tulis di binder hanya secimit hahahhaha.
Dan inilah yang berhasil saya catat di seminar itu ;)
* * *
* * *
Bagaimana Islam memandang Pernikahan
Pas saya dateng, pemateri (ustadzah Dewi Yulia dari Yayasan Buah Hati, Depok) lagi bahas ini. Dan beliau menjelaskan bahwa Islam memandang pernikahan sebagai:
1. Realisasi taklif (syarat dibebankannya perintah, yaitu ketika akil-baligh) dari ALLAH, sebagaimana tercantum dalam Q.S. Asy-syu'ara: 132 yang berbunyi "dan bertakwalah kepada ALLAH yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui". Maksudnya, ketika kita sudah baligh, kita sudah wajib menaati perintah ALLAH. Termasuk menjadikan pernikahan sebagai realisasi bentuk penghambaan kepada perintah ALLAH, bukan dengan tujuan lain.
2. Langkah konkret penanaman rasa tanggung jawab. Kalau sudah menikah, pasti jadi ajang latihan bertanggung jawab. Suami bertanggung jawab terhadap istri, istri bertanggung jawab terhadap suami. Kalau udah ada anak, jadi nambah tanggung jawab terhadap anak, dll dst dsb hehe ;)
3. Langkah utama pembentukan masyarakat muslim. Dalam keluarga, ditanamkan karakter muslim. Berawal dari sesuatu yang kecil (keluarga setelah kita menikah) dan berlanjut hingga usia pernikahan dan anak-anak sudah dewasa. Kalau semua keluarga seperti ini, bukan tidak mungkin tercipta masyarakat muslim yang tangguh :D
Itulah tiga poin penting tentang bagaimana Islam memandang pernikahan. Lalu, materi berlanjut tapi saya lagi agak skip jadi ga ngeh deh huuu T__T. Yang bikin saya balik fokus ke materi adalah ucapan ustadzahnya yang berkata "Anak akan bahagia bila ibu bahagia. Bagaimana mungkin anak akan tumbuh bahagia jika ibunya tidak bahagia?"
Jeng jeng! :O
Yang masih suka galau berlarut-larut (kayak saya misalnya .__.) yuk ah kita ubah sifat itu. Buat diri kita positif biar anak kita nanti tumbuh dengan karakter positif dan bahagia dengan limpahan senyum, kasih sayang, dan aura positif yang kita berikan dan tanamkan :D
Tujuan Pernikahan
1. Watawa shoubil haqqi (saling mengingatkan dalam kebenaran demi mendapat ridha ALLAH)
2. Watawa shoubis shabri (saling mengingatkan dalam kesabaran)
3. Watawa shoubil marhamah (mengingatkan untuk saling menyayangi. Tersurat dalam Q.S. Ar-rum: 21, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir"
4. Keturunan
5. Membentuk masyarakat kecil
Relasi dalam Pernikahan
1. Pasangan
2. Mertua
3. Kakak dan adik ipar
4. Nenek-kakek
5. Anak
*kalo kata ustadzahnya, selain doa untuk mendapat pasangan yang baik, doa dan minta sama ALLAH untuk keluarga mertua yang baik hihihi ;p
Kriteria Dikatakan Siap Menikah?
Kamu dikatakan siap menikah jika:
1. Siap berkomitmen (kalau ga siap, ngapain buru-buru nikah?)
2. Kesediaan memiliki tanggung jawab (biar ga nyerah ketika menjalani bahtera rumah tangga)
3. Memiliki alasan positif untuk menikah (mengharap ridha ALLAH atau karena alasan lainnya?)
4. Siap untuk TIDAK BERGANTUNG PADA ORANG TUA (Nah..waini hehhehe ;D)
Modal yang Harus ada
Duit.
*krik krik*
Bukanlah hehehe. Yang bener, modal yang harus kita siapkan ada dalam diri kita, yaitu:
1. Bekal rohani dan iman
2. Bekal fisik dan amal
3. Bekal ilmu dan metode (maksudnya bekal ilmu dan metode yang tepat untuk mengenali sifat pasangan/keluarga mertua/anak dan cara mengatasi sifat mereka kalo lagi "ngambek")
4. Bekal perilaku dan akhlak
5. Tadhiyah (kesiapan untuk berkorban)
Macam-macam Pasangan
1. Qurrota A'yun (pasangan sebagai penyejuk jiwa dan penyenang hati)
2. Ziinatal hayaatad dunya (pasangan sebagai perhiasan dunia)
3. Fitnah (pasangan sebagai fitnah atau cobaan)
4. Musuh (pasangan sebagai musuh, dalam artian menjadi musuh)
* * *
Iya, segitu aja catetan yang berhasil saya abadikan hehe ;p
Iya, segitu aja catetan yang berhasil saya abadikan hehe ;p
Kemudian, dilanjut dengan sesi tanya jawab. Menurut saya, sesi tanya jawab ini ga perlu dibagi di postingan ini ya hehe. Walaupun ada satu penjelasan yang saya suka dari pemateri pertama (Ustadz Arsalsjah) ketika menjawab satu pertanyaan. Berikut cuplikan penjelasannya...
"Lelaki baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Pernyataan itu adalah suatu keniscayaan. Tetapi kita lihat contohnya dalam Qur'an, lelaki baik dengan istri yang tidak baik adalah Nabi Nuh a.s., dan wanita baik dengan lelaki yang tidak baik adalah Asyiah yang bersuamikan Fir'aun. Karenanya, jika pengecualian akan keniscayaan itu terjadi, maka bisa jadi ketika mendapat pasangan yang kurang baik, itu adalah bentuk ujian dari ALLAH. Atau cara ALLAH untuk membalas dosa dan apa-apa perbuatan buruk yang kita lakukan. Atau mungkin itu cara ALLAH dalam menyediakan jalan kita ke syurga. Yang jelas, yang harus kita jadikan panutan adalah Rasulullah, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah berakhlak mulia, dan kita lihat istri-istrinya tidak ada yang berperangai buruk"
*kurang lebih begitulah penjelasannya. Redaksi kata-katanya ga sama persis sama Ustadz Asalsjah, tapi ini yang saya inget hehehe.
"Tidak ada takdir sebelum terjadi. Mungkin sudah dituliskan dalam lauhul mahfuz, tetapi belum menjadi putusan"
*Hmm..mungkin itu sebabnya ada hadis yang berkata "Do'a dapat mengubah takdir". Makanya sedekah bisa menjauhkan perkara buruk. Silaturahim dapat memperpanjang umur. Itu karena tidak ada takdir sebelum terjadi. Kalau belum terjadi, maka bukan takdir kita. Semua yang terjadi pada kita, itu pilihan kita, takdir kita yang kita pilih dan mau.
Terakhir, closing dari Ustadz Arsalsjah:
*Hmm..mungkin itu sebabnya ada hadis yang berkata "Do'a dapat mengubah takdir". Makanya sedekah bisa menjauhkan perkara buruk. Silaturahim dapat memperpanjang umur. Itu karena tidak ada takdir sebelum terjadi. Kalau belum terjadi, maka bukan takdir kita. Semua yang terjadi pada kita, itu pilihan kita, takdir kita yang kita pilih dan mau.
Terakhir, closing dari Ustadz Arsalsjah:
"Lelaki yang menunda menikah padahal ia sudah siap, maka ada dua kemungkinan. Satu, ia pengecut. Dua, ia gemar bermaksiat"
*Ng...bgitu ya.. (-'^')a
* * * * *
Oke, sekian sharing tentang seminar pranikahnya hehe. Untuk menutup postingan kali ini, saya mau kasih satu link ke postingan senior saya. Disitu ada dialog anekdot senior saya dengan temannya tentang cari jodoh. Yang penasaran kayak apa dialognya, bisa dibaca di sini :)
No comments:
Post a Comment